Showing posts with label analisis puisi. Show all posts
Showing posts with label analisis puisi. Show all posts

17 July 2009

PUISI RINTIHAN SENJA

RINTIHAN SENJA

Detik senja

Meramu hadir-Mu

Seakan wujudmu berdendang ria

Membisik, menggerayongi

Senja yang gersang

Duhai pencipta hati

Jiwaku linglung merawang

Falsafah hidup yang hampir mati

Duhai …. Sang pelipur lara

Masihkah ada ruang nasehat-Mu?

Masih sempatkah kau menepi?

Mereguk, menikmati

Falsafah kinasih-Mu yang hakiki

Sang penyair patah, 2008

ANALISIS INTRINSIK

a. Tema

Religi

b. Rima

Puisi ini memakai rima bebas

c. Diksi

Pilihan katanya Konotatif, Yaitu mempunyai makna selain makna yang sebenarnya. Dan butuh penafsiran lebih dalam untuk mengetahui maknanya

d. Citraan

Pencitraan perasaan

e. Majas / Gaya Bahasa

Majas personofikasi “senja yang gersang”

f. Makna

Bermakna denotatif dan konotatif

ANALISIS EKSTRINSIK

a. Latar Belakang

Puisi lahir berawal dari resah jiwa yang kuawatir akan dosa-dosa sang hamba yang telah lalu.

b. Amanat/ Pesan

Bertaubatlah dengan taubat yang sebenar-benarnya sebelum segala sesuatunya menjadi terlambat.

c. Tujuan

Untuk mengetengahkan permasalahan jiwa yang harus diketahui oleh manusia.

d. Bentuk

Puisi ini puisi bebas atau modern

16 July 2009

PUISI TEMBANG DAHAGA

TEMBANG DAHAGA

Air mata langit yang menetes berlahan

Menghindar dari mulut bunga

Dengan setia di jatuhinya sebongkah batu

Hingga tertulis prasasti

Sejak kapan dia mulai gelisah

Lantaran apa bunga menyinap rasa dahaga

Sedang cuaca tak pernah dusta

Bunga meludah dan terus meludah

Sampai sempurna merahnya

Bulan terlentang kematian warna

Tak kuat lagi memikul dahaga

Ia menolak tetek cucunya

ANALISIS INTRINSIK

Tema

Kasih tak sampai

Rima

Rima I rima bebas, rima II rima bebas, dan rima III rima sama.

c. Diksi

Diksinya Denotatif (lugas, mudah dipahami)

d. Citraan

Penglihatan dan pendengaran

e. Majas / Gaya Bahasa

Majas Personifikasi

f. Makna

seorang gadis yang mencintai seseorang akan tetapi orang tersebut malah memilih gadis lain hingga menikah. Gadis tersebut menanti dan menanti namun keadaannya tak berubah, hingga putus asah dan tak sanggup lagi menahan bebannya dan akhirnya meninggal dunia.

ANALISIS EKSTRINSIK

Latar Belakang

Karena adanya Fenomena di masyarakat, banyak gadis cintanya tidak terbalaskan selalu menanti-menanti hingga putus asah dan patah hati.

Amanat/ Pesan

Pesan atau amanat yang disampaikan oleh pembaca atau pendengar janganlah menanti cinta seseorang karena orang tersebut belum tentu mencintaimu.

c. Tujuan

Puisi di atas mempunyai tujuan agar pembaca atau pendengar jangan mengharapkan cinta yang tak pasti. Dan janganlah mengharapkan sesuatu yang tak mungkin untuk dimiliki.

d. Bentuk

puisi di atas mempunyai kata-kata konkrit atau pembaca susah memahami makna tersebut dan konotasi, menggunakan imajinasi penglihatan dan pendengaran seperti yang terdapat di unsur intrinsik pada pencitraan yang diperkuat dengan menggunakan majas atau gaya bahasa.

PUISI AYAH

AYAH

Kerut diwajah tanda usia senja

Tak menghalangi langkah tegarmu

Mandi keringat membanting tulang

Demi kami semua keluargamu

Fajar menyingsing kau melangkah

Di senja hari baru kau kembali

Hanya ada satu tujuan mulia

Memberi sinar bahagia bagi kami

Kau memohon pada Tuhan

Berkah keselamatan untuk Ayah

Memberi rahmat daan kekuatan

Melindungi jalan kehidupannya

(Yayuk Pratiwi)

ANALISIS INTRINSIK

a. Tema

Kerja keras seorang ayah

b. Rima

Puisi di atas pada bait pertama sampai bait terakhir menggunakan rima bebas.

c. Diksi

Puisi di atas menggunakan pemilihan kata denotatif bermakna lugas (mudah dipahami)

d. Citraan

Imajinasi-imajinasi yang digunakan adalah imajinasi visual.

e. Majas / Gaya Bahasa

menggunakan majas hiperbola dapat dilihat pada mandi keringat membanting tulang, dan memberi sinar bahagia bagi kami. (melukiskan suatu peristiwa) numerasi “fajar menyinsing kau kembali”.

f. Makna

Puisi di atas menggambarkan sosok ayah yang tegar dalam menafkahi keluarganya. Dia tidak pernah mengenal lelah dalam bekerja dan semua itu dilakukan karena kecintaannya terhadap keluarganya.

ANALISIS EKSTRINSIK

a. Latar Belakang

Puisi di atas mengangkat tema kehidupan yang berlatar pada kehidupan keluarga. Dengan penokohan seorang Ayah yang giat bekerja tanpa mengenal lelah dalam memenuhi kebutuhan keluarganya.

b. Amanat/ Pesan

Secara tersirat penulis ingin menyampaikan kepada kita agar kita selalu bekerja keras dalam mengerjakan sesuatu dan tak pernah lelah.

c. Tujuan

Puisi di atas memiliki tujuan yang mengajak pembaca agar mencontohi perilaku tokoh Ayah. Dengan sikap Ayah yang rajin, ulet dan tekun, kita bisa mencontoh dan meneladani serta menghargai perjuangan seorang Ayah.

d. Bentuk

Puisi di atas menggunakan kata-kata yang bermakna lugas (mudah dipahami) dan menggunkan imajinasi visual (penglihatan). Seperti terdapat di unsur intrinsik pada citraan yang diperkuat dengan penggunaan majas / gaya bahasa

PUISI MENCARI ILMU

MENCARI ILMU

Telah begitu lama

Aku terbaring dalam tidur panjangku

Lupa akan cinta dan sayang-Mu

Terlelap dalam buaian sang badut

Banyak rasa tak terungakap

Tertahan…….

Terpendam ….

Adakah Engkau?

Mencari-Mu

Disetiap celah yang hadir bersama udara

Di setiap penghujung sujud-sujudku

Adakah Engkau?

ANALISIS INTRINSIK

Tema

Mencari kembali hidayah Allah SWT bertaubat.

Rima

Bait pertama pada puisi di atas menggunakan rima bebas

2. Pengulangan bunyi /t/ pada larik pertama pada bait pertama, menggunakan rima aliterasi, seperti tampak pada lirik”tak terungkap”.

pada bait ketiga puisi di atas, terdapat beberapa rima. Antara lain :

rima identik, yaitu adanya pengulangan/ persamaan bunyi atau kata “di setiap” pada larik kedua dan ketiga.

pada bait kedua berima bebas.

rima rupa, yaitu pengulangan bunyi /u/ yang hanya tampak pada penulisan suatu bunyi, sedang pelafalannya tidak sama. Seperti pada lirik “penghujung sujud-sujudku”.

Diksi

Kata-kata yang digunakan dalam puisi ini banyak bermakna idiom, misalnya kata-kata yang ada dalam frase “dalam tidur panjangku” dan kata-kata yang ada frase “sang badut”.

d. Citraan

citraan gerakan, “terbaring”, kemudian

citraan penglihatan, seperti dalam kata mencari-Mu”.

Kutipan : “ biar jiwaku habis terbakar, dalam kobaran nyala raya.”

e. Majas / Gaya Bahasa

majas metafora, seperti dalam kutipan “aku terbaring dalam tidur panjangku” dan pada lirik “ terlelap dalam buaian sang badut”.

gaya bahasa repetisi, yaitu adanya pengulangan kalimat “adakah engkau?” dan kata “ di setiap” dalam puisi di atas.

f. Makna

adapun makna yang terkandung dalam puisi di atas adalah keinginan untuk kembali ke jalan yang benar. Yaitu keinginan untuk bangkit dari tidur panjang (kehilapan) penyair dari buaian sang badut (dunia).

ANALISIS EKSTRINSIK

Latar Belakang

belajar dari pengalaman hidup dan kesalahan-kesalahan di masa lampau.

Amanat/ Pesan

setiap manusia pasti mempunyai kesalahan dan juga dosa maka dari itu jalan terbaik satu-satunya adalah bertobat.

tidak ada kata terlambat untuk kembali kepada kebenaran.

tidak ada tempat kembali kecuali kepada sang penyair Agung Allah SWT.

Tujuan

Agar pembaca juga ikut menyadari, bahwa sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah mereka yang menyadari kesalahnnya dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi.

d. Bentuk

bentuk atau jenis puisi di atas adalah bentuk puisi prismaatis (membias).

PUISI API SUCI

API SUCI

Selama nafas masih mengalun

Selama jantung masih memukul

Wahai api bakarlah jiwaku

Biar mengaduh biar mengeluh

Seperti wajah merah membara

Dalam bakaran api nyala

Biar jiwaku habis terlebur

Dalam kobaran nyala raya

Sesak rasa desak rasa dikalbu

Gelisah liar mata memandang

Dimana duduk rasa dikejar

Demikian rahmat tumpahkan selalu

Nikmat rasa api menghangus

Nyanyian semata bunyi jeritku

ANALISIS INTRINSIK

Tema

Doa mohon ketegaran kutipannya wahai api, bakarlah jiwaku

b. Rima

Rima pada puisi di atas menggunakan rima bebas karena sajak yang digunakan dalam puisi di atas tidak termasuk dalam aturan persajakan.

c. Citraan

Imajinasi kinastetik adalah imajinasi badan yang menyebabkan badan loyo, sakit dan kasus dalam puisi ini pembaca seolah-olah ikut merasakan panas yang digambarkan oleh penyair.

Kutipan : biar jiwaku habis terbakar, dalam kobaran nyala raya.

Imajinasi visual adalah imajinasiyang membuat pembaca seolah-olah melihat seperti yang dirasakan oleh penyair gelisa liar mata memandang, dimana duduk rasa di kejar.

d. Majas / Gaya Bahasa

Majas yang digunakan penyair pada puisi di atas adalah

Klimaks naik adalah gaya bahasa yang maknanya mekinmengeras biar mengaduh biar mengeluh

Personifikasi adalah gaya bahasa yang mengumpamakan benda dapat berbuat / bergerak seperti manusia selama jantung masih memukul

Hiperbola adalah makna bahasa yang berlebih-lebihan. nikmat rasa api menghangus

gaya bahasa repetisi adalah gaya bahasa mengulang atau pikiran beberapa kali selama nafasku masih mengalun

e. Makna

puisi di atas bermakna antara lain : doa seorang hamba agar diberikan ketegaran jiwa, dan dalam doa itu ia ingin bangkit dalam keterpurukan hingga memiliki semangat laksana api yang membara membakar jiwanya biar mengaduh, biar mengeluh, seperti wajah merah membara, dalam bakaran api nyala.

ANALISIS EKSTRINSIK

Latar Belakang

Dalam hidup terkadang seseorang menemui kesulitan yang dapat membuat seseorang patah semangat puisi tersebut dibuka untuk mengungkapkan kondisi yang demikian.

b. Amanat/ Pesan

Hendaknya orang memiliki semangat yang besar untuk dapat bangkit dari sebuah keterpurukan dan jangan pernah henti untuk mencari inspirasi. Sesak mendesak rasa di kalbu, gelisah liar mata memandang, di mana duduk rasa di kejar.

Senang tiasa selalu mensyukuri apa yang terjadi, waktu pahit sekalipun, semua itu tidak kekal dan hanya merupakan seni dari kehidupan. nyanyian semata bunyi jeritku.

c. Tujuan

Pengarang ingin menyampaikan pesan agar senantiasa manusia melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh.

d. Bentuk

Pada bait 1,3 dan 4 “puisi” di atas berbentuk tersina yaitu sajak tiga baris seuntai sedangkan bait kedua adalah puisi berbentuk kwatren yaitu empat baris seuntai sanjak.

15 July 2009

PUISI ILMU

ILMU

Ilmu………………

Dimana kau berada ?

Aku selalu mencarimu

Berdasarkan apa saja aku rela

Demi tercapainya cita-citanya

Tiap pagi aku pergi

Setelah siang akupun kembali

Semua ini hanya engkau yang kucari

Untuk kemudian kumiliki

Ilmu ……………...

Tiap orang mencarimu

Menuntut dan mengejarmu

Tapi kamana kau sembunyi?

Sehingga orang sukar mencarimu

ANALISIS INTRINSIK

Tema

Menuntut Ilmu dan Mengejar Pendidikan

b. Rima

Bait pertama dan ketiga menggunakan rima bebas

Pada bait kedua mempunyai rima sama.

c. Diksi

Bermakna konotasi atau bukan makna sebenarnya

d. Citraan

Citraan Penglihatan (Visual Imagery)

e. Majas / Gaya Bahasa

Majas retoris kerena gaya bahasa penegasan dengan mempergunakan kalimat tanya yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban karena sudah diketahuinya.

f. Makna

Puisi di atas menceritakan tentang seseorang dalam mencari ilmu untuk mencapai cita-citanya.

ANALISIS EKSTRINSIK

Latar Belakang

Karena keinginan penulis dalam mencari ilmu dia rela berkorban apa saja.

b. Amanat/ Pesan

Secara tersirat penulis ingin menyampaikan kepada kita. Supaya kita sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu seperti kata pepatah tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina

c. Tujuan

Pertama pendidikan ini mengingatkan kita agar selalu berusaha dalam menuntut ilmu.

d. Bentuk

Berbentuk visual pembaca seolah-olah melihat sendiri apa yang dikemukakan oleh “penyair”.

PUISI DO'A

DO'A

Tuhanku

Dalam termangu

Aku masih menyebut nama-Mu

Biar susah sungguh

Mengingat kau penuh seluruh

Cahaya-Mu panas suci

Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

Aku hilang bentuk

Remuk

Tuhanku

Aku mengembara dinegeri asing

Tuhanku

Di pintu-mu aku mengetuk

Aku tidak bisa berpaling

ANALISIS INTRINSIK

Tema

Ketuhanan

b. Rima

Menggunakan rima bebas

c. Diksi

Diksinya bermakna denotasi atau bermakna sebenarnya sehingga mudah dipahami

dalam termangu aku masih menyebut nama-Mu

d. Citraan

Imajinasi perasaan

biar susah sungguh mengingat kau penuh seluruh

Imajinasi penglihatan (visual)

di pintu-Mu aku mengetuk aku tidak bisa berpaling

Imajinasi pendengaran

aku hilang bentuk remuk

e. Majas / Gaya Bahasa

Menggunakan majas personifikasi yaitu pada

dalam temangu aku masih menyebut nama-Mu

Repetisi pengulangan kata aku

Konotatif aku mengembara di negeri asing.

f. Makna

Puisi menggambarkan keagamaan seseorang yang mempunyai nilai religius yang tinggi, walaupun dalam keadaan susah atau bahagia tetap mengingat kepada Tuhan. Dan setiap melakukan sesuatu harus mengingat dan memohon kepada Allah.

ANALISIS EKSTRINSIK

Latar Belakang

Puisi doa merupakan sifat yang dimiliki oleh pengarang yang mempunyai nilai religius yang tinggi kepada Tuhan dan menuangkan kedalam sebuah puisi. Doa mendeskripsikan ketuhanan itu dengan diri kepada Tuhan dan memuji kebesaran Tuhan.

b. Amanat/ Pesan

Secara tersirat penulis ingin menyampaikan kepada kita hendaklah kita selalu mengingat kepada Allah walupun dalam keadaan bagaimana. Karena Tuhanlah yang menentukan segala sesuatu, susah maupun senang.

c. Tujuan

Dengan diciptakannya puisi doa secara langsung penulis ingin menyampaikan kepada pembaca untuk mengingatkan bahwa dalam keadaan bagaimanapun dan suasana bagaimanapun kita harus mendekatkan diri kepada Tuhan dan berserah diri kepada-Nya.

d. Bentuk

Bentuk "puisi" doa terdiri dari larik yang teratur. Dan dalam satu bait terdiri dari tiga larik.

14 July 2009

PUISI KUSANGKA DULU

KUSANGKA DULU

Kusangka dulu luka jiwaku

Tiada’kan dapat sembuh lagi

Kusangka ku akan selalu

putus harapan. Ingin mati

tapi waktu penawar yang sakti

dapat menutup luka jiwaku

dan di atas luka yang dulu`

tubuh indah mawar cintaku.

ANALISIS INTRINSIK

Tema

“ Kusangka Dulu” yaitu kesedihan seseorang yang berujung kebahagiaan.

b. Rima

Pada bait pertama menggunakan rima silang

Pada bait kedua menggunakan rima bebas

Diksi

Menggunakan pilihan kata denotatif (lugas, mudah dimengerti).

d. Citraan

Imajinasi visual pencitraan penglihatan yaitu pembaca seolah-olah merasakan dan melihat sendiri apa yang di kemukakan penyair.

e. Majas / Gaya Bahasa

Menggunakan majas Hiperbola ialah jenis majas yang menyatakan sesuatu secara berlebih-lebihan. Ini termasuk Majas perumpamaan.

f. Makna

Pada bait pertama bahwa penyair pernah mengalami kesedihan yang luar biasa karena tinggal mati olah sang kekasih.

Pada bait kedua, bahwa penyair telah menemukan penawar luka yang dapat menutup luka jiwanya yang kini tumbuh indah bersemi dihatinya.

ANALISIS EKSTRINSIK

Latar Belakang

Dalam puisi ini pengarang menyampaikan beberapa pesan amanat kepada pembaca yaitu agar pembaca dapat mengetahui bahwa betapa sedihnya ditinggal seseorang yang kita cintai dan kita sayangi.

b. Amanat/ Pesan

Janganlah larut dalam suatu kesedihan

jadikanlah kisahmu sebagai pengalaman dan pelajaran dalam hidupmu.

c. Tujuan

untuk menyampaikan kepada pembaca agar tidak larut dalam suatu permasalahan yang menyebabkan kita seperti orang yang tak mempunyai semangat hidup.

d. Bentuk

berbentuk visual pembaca seolah-olah melihat sendiri apa yang dikemukakan oleh penyair.

13 July 2009

PUISI MALAM LEBARAN

MALAM LEBARAN

Bulan di atas kuburan

Karya : Sitor Situmorang

ANALISIS INTRINSIK

a. Tema

“ Rasa Kemanusiaan “

b. Rima

Puisi “Malam Lebaran” ini bersajak atau berima datar yaitu terdapat kata-kata yang berima pada baris yang sama, Yaitu bunyi an pada bulan dan kuburan dalam satu larik yang sama.

Pada kutipan “ Bulan di atas kuburan”

c. Diksi

Penulis dalam pemilihan kata/diksi penulis ingin mengekspresikan perasaan atau isi pikirannya dengan menggunakan bahasa kiasan (figuratif/konotatif) sehingga walaupun hanya terdiri dari satu larik namun arti dan maknanya sangat luas.

d. Citraan

Penyair menggunakan citraan penglihatan (Visual Imagery), Penyair mengajak pembaca atau pendengar seolah-olah melihat bulan di atas kuburan.

e. Majas / Gaya Bahasa

Dalam puisi ini menggunakan majas simbolik, yaitu menggunakan kiasan lambang-lambang. Bulan dilambangkan kemeriahan / kebahagiaan.

f. Makna

Dalam puisi ini kita dapat parafrasekan yaitu malam lebaran, bulan dan di atas kuburan, menjadi di malam lebaran ada bulan di atas kuburan. Memang di malam lebaran 1 syawal tidak ada bulan yang muncul, tetapi itulah keahlian dari penyair Sitor ini yang membuat orang bisa bermacam-macam penafsirannya. Makna dari puisi ini lebih mengarah pada kehidupan sosial bermasyarakat sesuai tema yang ingin disampaikan oleh penulis yaitu rasa kemanusiaan.

Kata “Bulan” yang dimaksud dalam puisi di atas adalah bulan di malam lebaran. Lebaran sebagaimana dipahami banyak orang, merupakan saat penuh kebahagiaan setelah sebulan lamanya berhasil menjalankan ibadah puasa hampir semua orang tenggelam dalam hiruk-pikuk kemeriahan menyambut saat-saat lebaran itu, semua orang dari semua kalangan tak melewatkan momentum berkah dan maghfirah.

Namun, ada yang lupa bahwa di balik kemeriahan dan kebahagiaan di malam lebaran itu ada juga ketragisan hidup, tidak sedikit saudara-saudari kita yang masih akan harus “berpuasa” dan mengalami kelaparan pada saat hari lebaran itu, dan ada juga orang yang tidak bisa berlebaran dengan anggota keluarganya. Situasi dan keadaan ini sangat jauh dari nilai lebaran yang penuh dengan kebahagiaan mereka hanya bisa mendengar suara takbir yang terdengar pilu. Itu penulis maknai dari frasa “ di atas kuburan”. Jadi jika begitu kejadiannya memang benar yang dikatakan Sitor dalam puisinya yaitu Bulan di atas kuburan, yakni kebahagiaan di atas kesedihan dan penderitaan orang lain.

ANALISIS EKSTRINSIK

a. Latar Belakang

Puisi lahir dengan spontan. Latar belakang puisi Sitor ini yaitu peristiwanya terjadi pada malam lebran ketika Sitor sang penulis puisi hendak berkunjung ke rumah Pramoedya Ananta Toer, ia lewat dekat kuburan. Nah, karena sitor ini orangnya sangat piawai, pandai dan berjiwa dalam hal kesusastraan maka moment atau peristiwa itu sitor langsung membuat sebuah puisi, sehingga muncullah puisi yang dia beri judul “Malam Lebaran”.

b. Amanat/ Pesan

Hendaklah kita senantiasa selalu berbagi dengan sesama dan senantiasa menjalin silaturahmi kapan dan di manapun. Khususnya kepada mereka yang bernasib kurang beruntung. Karena kekayaan dan penghasilan yang kita miliki, jangan lupa di situ ada hak juga bagi fakir miskin dan anak terlantar.

c. Tujuan

Penyair Sitor membuat puisi ini untuk mengabadikan sepenggal kisah hidupnya yang dia curahkan ke dalam sebuah puisi dan juga agar pembaca dapat terkandung dalam puisi malam lebaran ini.

d. Bentuk

Bentuk puisi “Malam Lebaran” ini secara visual termasuk bentuk puisi terbuka/bebas, karena tidak mengacu pada struktur puisi yang sudah ada. Bentuk puisi ini juga terbilang unik karena hanya terdiri dari satu larik.

e. Biografi singkat pengarang

Sitor Situmorang tercatat sebagai salah satu sastrawan Indonesia yang lahir di Harianboho Tapanuli Utara, 02 Oktober 1924. Kehidupan Sitor paling banyak pengembaraannya di luar negeri. Setelah Ia kembali ke Indonesia ia berkiprah dalam kesusastraan Indonesia. Namun, Kiprahnya mendapat sorotan banyak pihak. Ia dipandang menyodorkan sesuatu yang baru dalam hal penulisan puisi dan cerpen Indonesia Modern.

Banyak sekali karya Sitor yang memperbanyak khazanah kesusastraan Indonesia. Itulah sebabnya Sitor ini dijadikan salah satu tokoh tangguh Sastrawan Indonesia.

PUISI NYANYIAN SEORANG PETANI

NYANYIAN SEORANG PETANI

Berilah kiranya yang terbaik bagiku

Tanah berlumpur dan kerbau pilihan

Biji padi yang manis

Berilah kiranya yang terbaik

Air mengalir

Hujan menyerbu tanah air

Bila masanya buahnya kupetik

Rahumnya kupetik

Rakhmat-Mu kuraih

ANALISIS INTRINSIK

a. Tema

“Harapan Seorang Petani“

b. Rima

Menggunakan Rima Bebas.

c. Diksi

Menggunakan pilihan kata denotatif (lugas, mudah dipahami dan dimengerti. Pada kutipan “ Tanah berlumpur dan kerbau pilihan”

d. Citraan

Menggunakan citraan Pendengaran (audio imagetery).

e. Majas / Gaya Bahasa

Menggunakan majas litotes.

f. Makna

Makna atau arti dari puisi di atas yaitu bekerjalah sungguh-sungguh agar apa yang diharapkan sebagai seorang petani mencapai hasil yang memuaskan dan maksimal.

ANALISIS EKSTRINSIK

a. Latar Belakang

Dalam puisi ini pengarang menyampaikan beberapa pesan amanat kepada pembaca yaitu Bekerjalah dengan sungguh-sungguh disertai do’a.

b. Amanat/ Pesan

Latar belakang penciptaan puisi ini, pengarangnya sangat peduli akan kehidupan seorang petani sehingga dalam puisi ini lebih banyak

c. Tujuan

Puisi ini mempunyai tujuan yang mengajak pembaca atau pendengar untuk selalu memperhatikan nasib seorang petani.

d. Bentuk

Menggunakan imajinasi visual yaitu imajinasi yang menyebabkan pembaca seolah-olah melihat sendiri, apa yang dikemukakan oleh penyair.